Bagaimana Listrik Dihantarkan?


Darimana Listrik Dimulai

Listrik dimulai dari pembangkitan. Pembangkitan bermacam-macam tergantung dari energi primer yang digunakan, terdiri dari PLTU (Uap), PLTA (Air), PLTD (Diesel),PLTGU (Gas, Uap) dan PLTP (Panas Bumi). Selanjutnya dari pembangkitan disalurkan melalui Jaringan Transmisi melalui SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) maupun SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi) ditambah dengan gardu induk, tower dan transformator dan di distribusikan ke pelanggan baik pelanggan Bisnis, Rumah Tangga, Sosial dan Publik. melalui Kabel TM 20 KV (Tegangan Menengah), Gardu Distribusi dan Kabel TR (Tegangan Rendah) 220/380 Volt.




Pembangkitan dibangun oleh PLN Unit Induk proyek (PLN UIP) dan setelah dibangkitkan listrik kemudian disalurkan. Sebagai contoh peran penyaluran di Sumatera dilakukan oleh PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera (PLN P3B Sumatera). Oleh PLN P3B listrik dari pembangkit-pembangkit disalurkan ke sistem transmisi dan PLN Distribusi akan mengelola Jaringan Distribusi dan mengelola pelayanan pelanggan.

Rumitnya sistem ini adalah bagaimana PLN P3B Sumatera harus mengoordinir seluruh pembangkit agar dapat mengantisipasi beban listrik di Sumatera. Apalagi jika ada pembangkit yang tidak bisa beroperasi secara optimal karena ada gangguan, PLN P3B harus mengurangi beban pembangkit itu untuk dipindahkan ke pembangkit lain. Pembangkit listrik dan PLN P3B bekerja 24 jam. Selain karena harus terus berkoordinasi, energi listrik juga tidak dapat disimpan dan harus bereaksi seketika. Tenaga listrik yang diproduksi pun harus selalu sama dengan tenaga listrik yang dipakai konsumen.

Faktor kerumitan lain yang harus diperhatikan adalah efisiensi. Salah satu sumber inefisiensi adalah energi primer yang dipakai pembangkit adalah minyak (solar). Padahal minyak berharga paling mahal dibandingkan energi primer lain. Untuk saat ini investasi dalam pembangunan pembangkit dengan energi terbarukan juga membutuhkan biaya yang amat mahal. Maka dari itu PLN P3B harus mengatur pembangkit yang berenergi primer bekerja secara penuh saat beban puncak saja.
Faktor perawatan juga harus menjadi perhatian. PLN harus memastikan jaringan dan peralatan pendukungnya selalu berfungsi dengan baik untuk menjaga keandalan pasokan listrik ke pelanggan.

Sistem Interkoneksi Sumatera (SIS)

Di Sumatera, Sistem kelistrikan dibagi menjadi 3 bagian yakni :
  1. Sistem Sumatera Bagian Utara (Sumut-Aceh)
  2. Sistem Sumatera Bagian tengah (Padang – Riau) dan
  3. Sistem Sumatera Bagian Selatan (Sumsel – Jambi – Bengkulu – Lampung)
Lampung merupakan bagian dari Sistem Kelistrikan Sumatera Bagian Selatan dimana Sistem pembangkitan berskala besar yang berada di Sumatra Selatan, Jambi, Bengkulu dan Lampung telah terhubung oleh suatu jaringan transmisi 150 KV jalur barat, sementara untuk jalur timur masih terkendala pembebasan lahan. Fungsi transmisi adalah untuk menyalurkan daya yang dibangkitkan dari suatu lokasi ke lokasi lain sesuai kebutuhannya. Karena sistem ini direncanakan akan dikembangkan sampai ujung utara, ujung barat dan ujung selatan pulau Sumatra, maka sistem ini disebut Sistem Interkoneksi Sumatera (SIS).

Sistem ini saling terkait atau terinterkoneksi dalam proses penyediaan listrik. Interkoneksi adalah sebuah jaringan penghubung antar beberapa pembangkit yang mensuplai pelanggan yang ada dalam sistem. Jadi Listrik yang dihasilkan oleh semua Pembangkit dikumpulkan menjadi satu dan disalurkan ke seluruh Sistem Interkoneksinya.

Manfaat sistem interkoneksi ini adalah sebagai berikut :

  1. Meningkatkan mutu dan keandalan pasokan tenaga listrik,
  2. Daerah yang surplus energi dapat membantu daerah yang defisit energi listrik,
  3. Meningkatkan pelayanan kepada pelanggan,
  4. Meningkatkan efisiensi biaya dalam pengelolaan penyediaan tenaga listrik.
Perlu diketahui Beban puncak listrik di Propinsi Lampung mencapai 769 MW (Mei 2014). Beban sebesar itu disuplai dari pembangkit lokal Lampung sebesar 547 MW. Sementara 240 MW disuplai dari Sumatra Selatan melalui sistem interkoneksi. Dengan demikian jelas bahwa sistem interkoneksi sangat menguntungkan bagi pelanggan maupun PLN.

30 % Cadangan Daya Ideal Dalam Siistem Kelistrikan

Idealnya Daya listrik yang dihasilkan dari gabungan pembangkit dalam sistem interkoneksi Sumbagsel ini harus mampu memenuhi beban listrik di wilayah Sumatera dan bahkan harus menyimpan cadangan daya yang memadai sehingga memungkinkan pembangkit dapat melaksanakan pemeliharaan atau menjadi back up apabila suatu pembangkit/transmisi mengalami gangguan tak terencana.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas Beban puncak listrik di Propinsi Lampung mencapai 769 MW (Mei 2014). Beban sebesar itu disuplai dari pembangkit lokal Lampung, PLTD Sewa & pembelian daya dari listrik Swasta  sebesar 547 MW. Sementara 240 MW disuplai dari Sumatra Selatan melalui transmisi jalur barat (sistem interkoneksi). Dengan cadangan daya 18 MW. Kondisi ini tentu tidak ideal cadangan daya 18 MW ini tidak mampu mengcover apabila salah satu unit pembangkit di PLTU Tarahan berkapasitas 100 MW mengalami gangguan, tentu saja akibatnya pasti akan terjadi pemadaman bergilir.

Kondisi Cadangan daya yang ideal adalah 30% dari beban puncak . Jadi apabila beban puncak Lampung adalah 769 MW, maka cadangan dayanya harus 231 MW. Jika Cadangan daya ini terpenuhi maka apabila pembangkit terbesar di Lampung (mis. PLTU Tarahan berkapasitas 200 MW) mengalami masa pemeliharaan, maka pemadaman bergilir dapat dihindarkan.

Mengendalikan Beban Puncak

Faktor lainnya agar tidak terjadi pemadaman adalah PLN harus mampu mengendalikan pertumbuhan (Beban Puncak). Pada dasarnya pembangunan pembangkit harus disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan pertumbuhan natural 6 %/tahun maka sistem Sumbagselteng yang menompang Lampung membutuhkan tambahan pembangkit sebesar 9 % / Tahun dengan 3% sebagai cadangan mengingat setiap pembangkit pasti akan memasuki masa perawatan/perbaikan dalam setahun.
Namun untuk membangun pembangkit dan infrastruktur kelistrikan lainnya (Transmisi, Gardu Induk dll) bukanlah hal yang mudah. PLN seringkali terhambat dalam masalah pembebasan lahan, perijinan dan dana investasi yang minim.

Setidaknya diperlukan waktu 3 tahun untuk pembangunannya saja (tidak termasuk waktu untuk pembebasan lahan dll) untuk itu diperlukan investasi pembangunan pembangkit secara terus menerus selama setahun dan dengan UU 30 Tahun 2009 yang baru membuka kesempatan bagi PEMDA dan IPP (Listrik Swasta) untuk membangun pembangkit sendiri di Lampung dan PLN akan membeli daya yang dihasilkannya.

Untuk itu membangun pembangkit merupakan bagian dari perencanaan jangka panjang karena waktu pembangunan yang relatif tidak sebentar dengan prediksi beban puncak yang harus terukur karena terlambatnya pembangunan infrastruktur kelistrikan berarti akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu daerah.

Jangan Sampai PLN hanya menjadi Ban Belakang yang tidak mampu mengejar pertumbuhan beban sehingga menyebabkan terjadinya pemadaman disuatu daerah. Untuk itu diperlukan peran besar pemerintah daerah dan masyarakat dalam pembebasan lahan dan ijin  untuk pembangunan Infrastruktur Kelistrikan, Pemerintah Pusat & DPR dalam memberikan Margin yang memungkinkan PLN untuk melakukan investasi serta IPP (Listrik Swasta) untuk sama-sama membangun pembangkit untuk mewujudkan perekonomian Indonesia. 

Sumber : http://www.pln.co.id/lampung/?p=3551

Share on Google Plus

About Redaksi

Satu Blog Untuk Energi, Berisi Artikel, Data, Tips, Skema, Gambar, Makalah di Bidang Energi . Artikel yang ditayangkan terdiri dari Teori Dasar, Penemuan, Aplikasi Ilmu, Kebijakan Pemerintah, Layanan Perusahaan Energi, Tips-tips mudah sebagai konsumen, Isu Tekini di bidang Energi, Pengetahuan Praktis, Skema Dasar dan Makalah di bidang Energi seperti Kelistrikan, PLN, dan Sumber energi Primer (Air, Angin, Laut, Panas Bumi, Nuklir, Batubara, Minyak, Gas).

0 comments:

Post a Comment